Website Iklan Tayang Selamanya
Promo spesial hari ini posting iklan di situs web Iklan Sulawesi Tengah murah sekali
setidaknya satu iklan Anda harus ada di Iklan Sulawesi Tengah unikbaca.com ini, agar
pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting di Iklan Sulawesi Tengah murah
🎁 Hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web! DISKON!

Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Malam Selawe Tradisi Akbar Di Gresik

Malam Selawe ,malam ke 25 di bulan ramdhan .dimana pada malam itu banyak orang yang melakukan iktikaf dan berburu malam lailatul qadar dengan cara melakukan ibadah demi ibadah .Malam Selawe ini diadakan setiap tahun nya pada tanggal 24-25 ramadhan disekitar pemakaman Sunan Giri gresik .Acara ini merupakan acara yang ditunggu tunggu oleh warga Gresik khususnya .Biasanya saat malam itu ,jalan yang selebar 8 meter itu dipenuhi dengan para pedagang dan para peziarah baik dari Gresik ,luar gresik bahkan luar jawa ,ratusan bahkan ribuan peziarah pun berada disana .

Tradisi malam selawe ini telah berlangsung selama ratusan tahun yang lalu ,dan diadakan setiap tahun nya di bulan ramadhan .Seiring dengan banyaknya
peziarah yang datang pada malam itu ,maka naluri para pedagang pun juga ikut meramaikan suasana dengan menawarkan barang - barang daganganya .Maka tak heran jika ruas jalan mulai dari per-empatan Kebomas sampai komplek pemakaman Sunan Giri dipadati banyak pedagang dan peziarah .

Jika tidak terbentur dengan kesibukan yang ada ,monggo sekali - kali kita meluangkan datang ke makam Sunan Giri pada malam 24-25 bulan ramadhan ,agar kita bisa melihat dan merasakan langsung tradisi asal Gresik tersebut yang masih dilakukan setiap tahun nya
thumbnail

Tradisi Khoul Bungah Di Gresik

Khoul Bungah ,ini dia salah satu tradisi dari Gresik yang masih rutin dilakukan tiap tahun nya .Khoul bungah adalah salah satu acara untuk memperingati wafat nya Sholeh Tsani yang berada di desa Bungah ,Gresik .Tak kalah dengan Pasar Bandeng dan Rebo Kasan ,Khoul Bungah ini sendiri selalu ramai di kunjungi penduduk baik dari Gresik asli maupun luar Gresik .

Selain itu dengan banyaknya orang yang berkumpul pada pinggiran jalan itu akan memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar yang
berusaha memanfaatkan situasi yang ada untuk mencari rezeki dengan berjualan berbagai macam aneka makanan atau biasa kita sebut dengan pasar dadakan dan mainan - mainan pun bergelantungan guna mempersiapi hiburan bagi si kecil. Saya pribadi berharap tradisi ini akan terus dilestarikan secara turun-temurun oleh warga masyarakat Kec. Bunga Kab. Gresik sehingga dapat menjadi kebudayaan yang dapat menjadi infestasi yang tinggi bagi warga dan daerah tersebut .


Di jaman moderen saat ini bukan berarti kita melupakan tradisi yang diberikan neneng moyang kita karena apa yang diwariskan beliau-beliau kepada kita bukan isapan jempol belaka atau tanpa tujuan, sebab pendahulu kita pasti punya alasan yang kuat ketika mereka memberi kita warisan leluhur yang harus kita lestarikan setiap tahunnya
thumbnail

Tradisi Rebo Kasan Di Gresik

Tradisi Rebo Kasan (Rebo Wekasan atau Rabu Pamungkasan) dilaksanakan di Gresik, Jawa Timur setiap tahunnya di bulan safar. Istilah Rabu Kasan berasal dari kata Rabu Pungkasan (terakhir) atau Rabu terakhir di bulan Safar. Tradisi Rabu Kasan sebenarnya tidak hanya dilakukan di Gresik, Jawa Timur saja, tetapi dilaksanakan juga di daerah lain, seperti Bogor ,Banten, dan Yogyakarta .Maksud dari tradisi ini kurang lebih sama di setiap daerah yang melaksanakannya, yaitu sama, untuk memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari bala’ (musibah dan bencana)


Tidak jauh beda dengan pasar bandeng, malam selawe ataupun acara haul Bungah suasana keramaian saat Rebo Wekasan di desa Suci kecamatan Manyar kabupaten Gresik ini pun akan banyak juga kita lihat sepanjang jalan dipenuhi para penjual beraneka ragam dagangan .Dan juga di sudut sudut tertentu ada permainan buat anak anak. Hanya saja bagi masyarakat Suci setempat perayaan Rebo Wekasan ini lebih menyerupai perayaan Idul Adha atau Idul Fitri, dimana masyarakatnya juga melakukan silaturrahmi kesana sini dan menyediakan makanan ketupat lontong.

Menurut opini yang berkembang di masyarakat sekitar ,konon pada zaman dahulu terjadi bencana kekeringan di sebuah desa bernama Pelaman, sebenarnya sunan Giri telah memberikan petunjuk kalau ada sumber air yang sangat besar di sekitar Masjid Pelaman. Tetapi lama kelamaan sumber air tadi menyusut. Kemudian Sunan Giri memberi petunjuk jika mereka menemukan tempat yang banyak tumbuh pepohonan maka akan ada sumber air disana. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya mereka menemukan tempat tersebut di sebuah desa bernama Pongangan. Dari sinilah perayaan Rebo Wekasan ada karena hari ditemukannya sumber tersebut dan selesainya pembangunan masjid yang semula ada di desa Pelaman jatuh pada hari Rebo Pungkasan di bulan Safar.
thumbnail

Pasar Bandeng Tradisi Warisan Wali Songo

Menurut berbagai sumber, ajaran agama Islam atau setidaknya pemeluk agama Islam telah menginjakkan kakinya di tanah Jawa melalui bumi Gresik [atau sekitarnya], dengan adanya situs peninggalan berupa Kubur Panjang yang terletak di desa Leran – antara Pojok dan Manyar – yang dulunya masih bisa terlihat dari tepi jalan, tetapi sekarang tertutup bangunan pabrik. Dengan telah tuanya kehidupan beragama itu, tentulah banyak tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh komunitas muslim di Gresik, diantaranya ada yang sudah hilang secara perlahan dan ada pula yang masih terus berlangsung.
Salah satu yang masih terus berlangsung, diantaranya adalah perpekan – yang kemudian lebih dikenal dengan nama Pasar Bandeng.Satu satu tradisi warisan Walisongo yang hingga kini masih dilestarikan. Yaitu tradisi menggelar Pasar Bandeng di pusat kota Gresik. Tradisi ini pertama kali diadakan oleh Sunan Giri untuk mengangkat perekonomian rakyat setempat. Dua dari sembilan Walisongo penyebar agama islam yang berada di Gresik sangat berpengaruh dalam membangun tatanan budaya masyarakat Gresik. Keduanya adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Raden Paku atau Sunan Giri. Melalui jalan perdagangan, Ainul Yaqin, nama kecil Sunan Giri melakukan da’wah kepada masyarakat. Kala itu, di abad 15 Sunan Giri mulai membantu perekonomian masyarakat dengan cara mengolah dan memasarkan hasil bumi. Hingga kini, masyarakat Gresik masih melestarikan warisan Sunan Giri yaitu  dengan membuat dan menjual kue Pudak dan penyelenggaraan Pasar Bandeng.

Adanya Pasar Bandeng ini untuk menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Sehingga, pada hari lebaran tiba, hampir seluruh penduduk kota Gresik makan dengan menu utama bandeng dengan berbagai macam olahan. Dengan demikian, para petambak bandeng terus bisa membudiadayakan tambak bandengnya. Dan di sisi lain, masyarakat Gresik bisa menikmati hasil bumi kekayaan daerahnya. Penyelenggaraan Pasar Bandeng oleh Pemerintah Gresik ini selain untuk melestarikan tradisi, juga untuk mendukung kemandirian ekonomi masyarakat Gresik. Seperti kita ketahui bahwa, Kabupaten Gresik berada di daerah pesisir pantai utara berbatasan dengan Lamongan, dan sebagian wilayah berdekatan dengan Mojokerto, Sidoarjo, dan Surabaya . Letak geografis ini menjadikan daerah Gresik sebagai daerah yang baik untuk budidaya tambak bandeng dan udang. Budidaya tambak bandeng dan udang ini sudah menjadi penghidupan sebagian besar warga Gresik, utamanya yang berada di daerah dekat pantai utara. Sehingga, apabila kita menyisir jalur pantura dari Gresik hingga Lamongan, sejauh mata memandang adalah tambak bandengan dan udang yang kita lihat.

Pasar Bandeng digelar pada dua malam terakhir sebelum malam takbiran. Berbagai ukuran bandeng dengan berat dari ukuran beberapa ons hingga seberat 9Kg/ekor bahkan lebih dijual di sini. Untuk lebih menyemarakkan suasana pasar dan memberi semangat kepada petambak bandeng, diadakan lelang bandeng terbesar.


Sedangkan penjual lainnya [non-bandeng], dipersilahkan menempati ruas jalan antara Kalitutup sampai Garling. Mulai dari penjual peniti, pakaian, sandal, mainan, makanan dan minuman. Dan mereka telah ngecupi [booking] lokasi penjualan mereka beberapa hari sebelumnya, dengan memberikan cat di jalan dan nama mereka. Mereka bisa memilih lokasi di tengah jalan, atau di sisi jalan. Hampir tidak pernah terdengar adanya pertengkaran karena berebut lahan berjualan tersebut.

Penjual non-bandeng ini, umumnya adalah penjual keliling yang meramaikan berbagai kegiatan, dari kota yang satu ke kota yang lain. Mereka umumnya mulai berdatangan setelah tanggal 25 Ramadhan, dimana waktu itu mereka berjualan di Giri. Malam 25, atau lebih enak didengar dengan sebutan malem selawe, banyak orang yang berziarah ke makam Sunan Giri guna mencari Lailatur Qadar dengan beri’tikaf di masjid Sunan Giri. Tidak saja masyarakat Giri dan sekitarnya, juga banyak yang dari luar kota, biasanya dari wilayah timur yang banyak berbahasa Madura.